MEMAHAMI BAHASA TAMSIL DALAM AL-QUR’AN

  • Khotimah Suryani Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Keywords: Bahasa tamsil, tasybih, dan isti’arah

Abstract

Betapa banyak makna indah dalam kandungan Al-Qur’an diungkapkan dengan bahasa tamsil, maka bahasa tamsil dalam Al-Qur’an semakin menambah keindahan dan keelokan makna yang dimaksud. Hal itu dapat mendorong jiwa seseorang semakin bisa menerima kandungan Al-Qur’an dan akal tergerak dapat mencerna ungkapan ini. Bahasa tamsil menjadi salah satu gaya bahasa (uslub) Al-Qur’an ketika ia mengungkapkan makna serta menampilkan segi-segi kemu’jizatannya. Apalagi beberapa hadis Rasulullah telah mendorong umat Islam untuk mengkaji bahasa tamsil dalam Al-Qur’an. Atas dasar itu maka makalah ini akan merumuskan kajian mengenai: (1) bagaimana pengertian bahasa tamsil atau amtsal Al-Qur’an; (2) bagaimana macam-macamnya atau wujudnya dalam Al-Qur’an; (3) bagaimana manfaat bahasa tamsil dalam Al-Qur’an; (4) bagaimana sikap ulama dalam merespon bahasa tamsil dalam Al-Qur’an; serta (5) bagaimana cara memahami ayat Al-Qur’an yang ber-uslub bahasa tamsil. Untuk mendapatkan jawaban dari beberapa masalah di atas, tulisan ini disajikan menggunakan metode deskriptif-analitik. Penyajian data dilakukan secara deskriptif lalu dilakukan analisis, kemudian diakhiri dengan penyimpulan. Dari berbagai pemaparan mengenai persoalan ini dapat disarikan beberapa hal yang menjadi kesimpulan dari makalah ini, antara lain: (1) Bahasa tamsil atau kalam matsal adalah majaz murakkab yang relevansi (‘alaqah) ungkapannya bersifat penyerupaan (متشابهة). Dalam definisi lain dinyatakan bahwa amtsal Al-Qur’an adalah menghadirkan makna dalam suatu konsepsi yang indah, struktur kalimatnya pendek, maknanya lebih mengena pada jiwa seseorang, baik ungkapan tersebut berjenis tasybih atau non-tasybih; (2).Macam-macam bahasa tamsil dalam Al-Qur’an antara lain: (a) al-tasybih al-sharih; (b) al-tasybih al-dhimni; dan (c) tamsil non-tasybih atau non-isti’arah. Sedangkan Manna’ Khalil al-Qattan menggunakan istilah lain yaitu: (a) al-amtsal al-musharrihah; (b) al-amtsal al-kaminah; dan (c) al-amtsal al-mursalah. (3).Manfaat bahasa tamsil dalam Al-Qur’an, antara lain: (a) dapat mengungkapkan sesuatu yang bersifat imajinatif dengan sesuatu yang bersifat empiris; (b) menghadirkan makna yang indah dengan bahasa singkat; (c) memotivasi prilaku baik dan mencegah prilaku buruk; (d) memuji orang berprilaku baik dan mencaci prilaku buruk; dan (e) dapat menyampaikan pesan Al-Qur’an lebih mengena; (4).Terdapat sikap pro dan kontra di kalangan ulama terkait redaksi ayat Al-Qur’an dikategorikan sebagai bahasa tamsil. Bagi yang kontra berpendapat bahwa mengkategorikan ayat Al-Qur’an sebagai bahasa tamsil akan merendahkan derajat Al-Qur’an, namun bagi yang pro menyatakan bahwa bahasa tamsil dalam redaksi ayat Al-Qur’an menambah kemu’jizatan Al-Qur’an itu sendiri di bidang sastera dengan tanpa merendahkannya; dan (5).Memahami bahasa tamsil yang berjenis al-tasybih al-sharih dapat dilakukan dengan cara memilah unsur-unsur tasybih-nya, sedangkan tamsil yang ber-jenis al-tasybih al-dhimni dapat dipahami dengan cara menaksir unsur-unsurnya karena tasybih jenis ini tidak tampak di permukaan sebagaimana tasybih pada umumnya. Adapun bahasa tamsil yang berjenis non-tasybih, non-isti’arah atau al-amtsal al-mursalah dapat dilakukan dengan cara memahami kandungan ayat melalui nalar logika yang benar, lalu menyimpulkannya, yang hasil kesimpulan tersebut menjadi ibrah bagi kehidupan.

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2021-04-23
How to Cite
Suryani, K. (2021). MEMAHAMI BAHASA TAMSIL DALAM AL-QUR’AN. DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora, 8(1), 164-191. Retrieved from http://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/dar/article/view/2560
Section
Articles